Menanggapi Kritik Gilang Kazuya Shimura terhadap “Warisan” Afi Nihaya Faradisa

Beritauntukanda – Beberapa hari ini seakan-akan adalah hari-harinya Afi Nihaya Faradisa. Berawal dari tulisan nakalnya yang berjudul Warisan, kemudian akunnya yang di-suspend lalu diaktifkan lagi oleh Facebook, hingga balasan tulisan dari ‘kakak’-nya yang bernama Gilang Kazuya Shimura.

Di sini saya cukup tertarik untuk mengomentari, baik tulisan Afi maupun Gilang, yang bisa kita baca di halaman ini atau di halaman fesbuknya.

Begini, menurut saya, bagian paling penting dari setiap tulisan adalah pembukaannya. Ibarat perjalanan jauh, langkah pertama selalu paling penting. Sayangnya, baik Afi maupun Gilang sepertinya sudah terpeleset sejak langkah paling pertama.

Afi dahulu…

Saya heran kenapa Afi ini harus mengasosiasikan–walaupun tidak secara eksplisit–Islam dengan Indonesia, Kristen dengan Swedia, dan Yahudi dengan Israel.

Kalau melihat kondisi saat ini, sebenarnya asosiasi seperti ini tidak tepat. Swedia sekarang ini tengah dibanjiri pengungsi muslim dari daerah Balkan dan Timur Tengah (tidak hanya dari daerah bergejolak seperti Irak, Suriah dan Libya) yang lebih memilih bernaung di bawah pemerintah non-muslim yang lebih adil daripada sengsara dikhianati pemimpin-pemimpin muslim mereka.

Di Israel, 20 persen penduduknya (sekitar 1.5 juta) adalah orang Arab (yang 98 persennya beragama Islam), 13 di antara mereka adalah anggota Knesset. Di Israel, bahkan muazzin pun digaji oleh negara dan anggaran pembangunan masjid juga masuk dalam anggaran belanja negara.

Bandingkan dengan Saudi Arabia dan negara-negara teluk lainnya yang baik penduduk non-muslim maupun rumah ibadah non-muslimnya nyaris 0 persen. Orang tidak selalu harus lahir di negara Islam untuk menjadi Islam, dan juga tidak harus lahir di negara non-muslim untuk menjadi non-muslim.

Sekarang Gilang…

Gilang membuka tulisannya dengan konsep fitrah, seakan-akan ingin menampik pendapat Afi bahwa identitas–termasuk agama–tidaklah ‘diwariskan’ dan dibentuk setelah lahir, tapi sudah ditetapkan sejak di alam azali.

Menurut saya, di sinilah justru fokus kegalauan Afi, dan konsep fitrah yang diutarakan oleh Gilang bukanlah sebuah jawaban seorang kakak untuk memuaskan rasa penasaran adiknya, tapi justru malah menambah kegalauan Afi.

Kenapa? Kita sudah sama-sama tahu bahwa akar kegalauan Afi terletak pada sikap setiap penganut agama yang merasa agamanya yang paling benar. Lalu Gilang berkata, “tidak usah khawatir, dik, kebenaran Islam itu sudah sangat jelas karena konsep fitrah telah menetapkan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan muslim. Kalaupun dia jadi non-muslim, itu salah bapaknya. Masalah selesai, kan?”

Gilang lupa atau mungkin tidak tahu bahwa konsep fitrah itu sebenarnya tidak hanya ada dalam agama Islam. Di kalangan kaum Calvinis, misalnya, ada konsep sensus divinitatis yang kurang lebih maknanya sama dengan konsep fitrah dalam Islam.

Lalu Gilang menantang untuk mencari padanan ayat-ayat tertentu yang dia bilang tegas dalam al-Quran dengan ayat-ayat yang sama dalam kitab-kitab suci agama lain. Ini tentu saja proses pembandingan yang fallacious karena cara umat Islam memposisikan al-Qur’an tidak selalu sama dengan umat beragama lain memposisikan kitab-kitab suci mereka.

Afi sedang galau karena orang-orang ngotot memaksakan kebenaran agama mereka masing-masing. Dia mungkin tambah galau karena sekarang orang-orang ngotot memaksakan kebenaran konsep fitrah mereka masing-masing.

Cara menulis Gilang yang menurut intelektualitas saya sangat distasteful adalah cara ia memperlakukan karakter Afi secara sembarangan. Sejak awal, dia selalu menggunakan istilah ‘adik’ dan ‘kakak’ mungkin untuk mengesankan keakraban. Tapi ada dua hal yang saya baca di sini.

Pertama, istilah tersebut, seperti halnya istilah ‘anak SD’ dan bahkan ‘orang bijak,’ adalah istilah-istilah ad hominem, character assassination, bahwa Afi adalah junior dan kurang matang di hadapan Gilang.

Kedua, Gilang tidak secara tulus menggunakan istilah ‘adik’ dan ‘kakak.’ Kenapa? seorang kakak yang ingin mengoreksi adiknya tidak akan membuat surat terbuka. Dia akan memilih jalur pribadi alias japri.

Gilang juga sering menggunakan analogi-analogi yang banal dan aneh. Agama vs artis korea, petugas warnet vs identitas, sampai kriminalitas di Itali vs di Arab Saudi (seakan-akan TKW kita kepalanya utuh semua di sana; kenapa tidak membandingkan dengan Belanda yang penjaranya krisis penghuni karena kosong melompong) adalah analogi-analogi yang absurd.

Gilang mengakhiri tulisannya dengan kutipan Ibnu Mas’ud. Saya kurang paham apa maksudnya. Kemungkinan besar dia menganggap bahwa melalui tulisannya, Afi lebih ingin menampilkan keterampilan menulisnya daripada ketakwaannya, atau bahwa tulisan nakalnya adalah sebuah sinyal bahwa ketakwaannya telah tergerus oleh pluralisme.

Kita perlu ingat bahwa setelah menulis Warisan, Afi tetaplah Afi. Dia masih muslimah dan dia masih berkerudung. Kalaupun Gilang ingin menggunakan kutipan Ibnu Mas’ud, saya berani jamin bahwa tulisan Afi tidak hanya menunjukkan keterampilan menulisnya yang luar biasa, tapi juga ketakwaannya dan kesetiaannya terhadap agamanya sendiri tanpa perlu ngotot mendiskreditkan agama ataupun aliran lain, yang secara sadar maupun tidak sadar saat ini sedang menggejala di negeri kita.

Sumber: ( qureta.com )

daftar agen poker online
Facebook Comments